• Thu. Jun 30th, 2022

Dr. M. Ali Taher Parasong, SH.,MH: Sekolah untuk Membangun Peradaban Dunia

Apr 7, 2021


Penulis : Paul Maku Goru
Jumat, 04 Maret 2016 – 11:26:47 WIB





Dr. M. Ali Taher Parasong, SH.,MH



JAKARTA, TABLOIDPODIUM.COM – Bagi
Dr. M. Ali Taher Parasong, SH., MH., membangun sekolah itu sama dengan
membangun peradaban manusia. 


 


“Upaya
membangun peradaban dunia yang paling konkrit dan bisa dirasakan langsung
adalah melalui dunia pendidikan,” katanya sambil menambahkan bahwa pendidikan
merupakan jalan yang paling tepat untuk merubah hidup manusia.




 




Bertolak
dari keyakinan itu, pria kelahiran Lamakera – sebuah desa kecil di pulau Solor,
Flores Timur, NTT ini – telah menjadi inisiator dan pendiri beberapa Sekolah
dan Perguruan Tinggi di Tangerang, Banten, Kupang, Maumere dan Flores Timur,
NTT serta beberapa daerah lainnya. 




 




Suami
dari Hajjah Sri Murniati, S.Pd ini adalah salah seorang pendiri Sekolah Tinggi
Ilmu Ekonomi Muhammadiyah Tangerang yang sekarang telah berganti nama menjadi
Universitas Muhammadiyah Tangerang. Akademi Kebidanan Aisyiyah Banten juga
didirikan atas inisiatif  dan prakarsa doktor
hukum dari Universitas Padjajaran Bandung ini.




 




Tak
hanya itu. Ayah dari Nur Melinda Lestari, SE.I. MH,  Nur Rachmawati YJ. S.S. M,  Nur Fitri Izzati Ramadhani S.IP,  Achmad Farisi dan Muhammad Faqih Arfan juga
menggagas dan mendirikan Sekolah Tinggi Farmasi Muhammadiyah, Sekolah Tinggi
Teknologi Mutu Muhammadiyah dan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan YATSI yang,
lagi-lagi, semuanya berada di Tangerang, Banten.




 




Di
daerah kelahirannya, ia juga mendirikan beberapa lembaga pendidikan tinggi.
Sebut misalnya Sekolah  Muhammadiyah di
Lamahala,  IKIP Muhammadiyah di Maumere,
STIPERS di Adonara. Juga di Kalabahi, Alor.




 




Kini,
anggota DPR dari Fraksi Partai Amanat Nasional ini sedang mempersiapkan
berdirinya Universitas Muhammadiyah di Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, Banten.  Pihaknya kini sedang mengumpulkan
tenaga-tenaga doktor, minimal enam orang doktor untuk masing-masing Prodi.




 




Tak sulit, asal




 




Menurut
pria yang “besar” di lingkungan Muhammadiyah ini, mendirikan sekian banyak
sekolah tidaklah sulit. “Tidak ada yang sulit. Yang sulit itu adalah tidak
pernah mulai,” katanya. Asal taat pada aturan main yang berlaku, tak ada
halangan berarti dalam mendirikan sekolah.




 




Pria
yang pernah mengeyam pendidikan di SD Katolik El Tari di Riang Bao, Kecamatan
Ile Ape, Lembata, NTT ini menyebut lima unsur yang harus ada dan dipikirkan
matang bila kita ingin mendirikan sekolah. Pertama, visi dan misi harus kuat.
Kedua, harus ada jaringan, ketiga, harus ada trust atau kepercayaan baik dari stakeholder maupun masyarakat.  Keempat adalah sustainability atau keberlanjutannya. Yang kelima adalah kapital,
baik modal sosial maupun modal uang.




 




Kelima
unsur itu dimiliki oleh Muhammadiyah. Tak heran bila sekolahnya bertebaran di
mana-mana. “Muhammadiyah  menyebar di
seluruh Indonesia. Setiap ada pemekaran wilayah, kita punya kesempatan untuk
mendirikan Sekolah Tinggi,” kata pria yang selama dua periode pernah menjabat Wakil
Ketua Majelis Pendidikan Muhammadiyah Pusat ini.




 




Lalu
mengapa mantan Ketua Umum Generasi Muda Pembangunan Indonesia (GMPI) ini
memilih Pendidikan Tinggi sebagai jenjang pendidikan yang didirikannya? Tak
lain karena tantangan konkrit yang dihadapi oleh bangsa Indonesia kini.




 




“Sekarang
ini Pendidikan Tinggi belum mampu menampung output
atau lulusan dari seluruh Sekolah Menengah Atas di Indonesia. Setiap tahun
ada 2 juta lulusan, sementara daya tampungnya masih rendah,” kata Ali sambil
mendorong pemerintah agar membuka Perguruan Tinggi baru atau meningkatkan yang
suah ada, dengan meningkatkan kapasitasnya. Termasuk tenaga dosen dan
sebagainya.




 




Pria
yang menyelesaikan Pasca Sarjana di bidang Hukum dari Universitas Tarumanegara
pada tahun 2002 ini sangat yakin bahwa pendidikan tinggi merupakan alat yang
sangat berguna bagi seseorang dalam memenangkan pertandingan di dunia kerja, baik
di level dalam negeri maupun di mancanegara.




 




Dalam
kaitan itu, ia juga meminta pemerintah untuk memanfaatkan anggaran 20 % yang
sudah dialokasikan di bidang pendidikan untuk menyekolahkan orang Indonesia ke
luar negeri. Orang Indonesia yang kini berlajar di luar negeri tak lebih dari
100 ribu orang. Ini, kata dia, masih terlampau sedikit. Dibanding Cina
misalnya, sekarang ini menyekolahkan 27 juta orang ke luar negari.




 




Pendidikan itu utama




 




Menengok
ke masa kecilnya selalu membuat air matanya menetes, terharu. Kepahitan hidup
masa kecil, termasuk sulitnya mendapatkan pendidikan, telah mendorongnya untuk
berbuat banyak bagi makin banyak orang.




 




“Dulu
saya hidup susah, sekolah pun susah. Sekarang, melalui sekolah, kita bantu
orang untuk tidak susah. Pendidikan itu utama, bukan hanya penting dalam
membangun bangsa,” tuturnya. Karena utama, maka ia meminta pemerintah untuk
terus mendorong rakyatnya bersekolah.




 




Pemerintah
juga perlu membuat skema pembiayaan yang jelas dari 20 % anggaran pembangunan
untuk pendidikan itu, apakah  bagian
peningkatan SDM, gaji pegawai, biaya umum, sarana prasarana atau yang lainnya.